LOCOSPIRITUAL | Membaca Kembali The Journey of Spiritual World Melalui Artikulasi Visual dalam Tinjauan Estetika

Setiap orang akan mencari jalan spiritualitasnya ketika mereka merasa telah siap.  Jika tak ada orang lain yang memiliki ketertarikan yang sama maka biarkanlah ini menjadi arena privasi yang khusus bagi waktu pribadi Anda.  Karena Anda segera menerima tingkatan psychic (sensitif terhadap kekuatan tak kasat mata), yang merupakan sebuah kemampuan mental.  Peka terhadap sesuatu yang tengah berlangsung atau sesuatu yang akan terjadi.  (Elizabeth Owens, 2004: 35-50)

 

Sebuah perjalanan dunia spiritual menjadi sebuah kelaziman yang secara khusus mengalir dengan begitu saja pada setiap manusia ketika tengah mendalami esensi kehidupan dan relasinya dengan KeIllahian terkait pada perihal pemberdayaan aspek spiritual yang menjadikannya memiliki visi hidup.  Begitu juga garis hidup yang dirumuskan Alloh Swt terhadap waliyullah yang akan mewarisi ilmunya.  Don Vito Carleone dalam Fuad Riyadi (2010: 172) menyatakan bahwa seorang anak hanya memiliki satu takdir dan Kyai muda ini menetapkan hati untuk meniti garis takdirnya di jalan Illahi sebagai Kyai dengan merintis mendirikan sekaligus mengasuh pondok pesantren Roudlotul Fatihah. Mencermati perjalanan spiritual dari garis keturunan pada generasi sebelumnya telah mengindikasikan bahwa memang sudah ditakdirkan sebagai bagian penting pelaku syiar Islam di Indonesia.  Kyai Fuad Riyadi merupakan bagian kecil dari himpunan ratusan juta manusia yang mengabdikan segenap hidupnya untuk membagi pengetahuan, ilmu dan menebarkan vibrasi spiritual untuk orang banyak.  Kyai Fuad mengabdikan diri secara totalitas pada komunitas kecil pesantren Roudlotul Fatihah (Taman Pembuka Jiwa) serta sebagai narasumber yang mendokumentasikan pemikiran-pemikiran religiusitas dan analisis cerdas-rasional dengan analisa kontemporer yang tajam mengenai Islam pada situs www.lidah wali.com.  Locospiritual diinterpretasikan sebagai landscape laku spiritual yang menjadi-jadi, mendahsyat atau menggila menemukan kedalaman-kedalamannya.

Menggilai Spiritual  dan Spiritualitas yang Menggila

Konsep Locospiritual ini lebih mengacu pada terminologi Loco dalam pengertian Menggilai   atau Spiritualitas, ketika antara kata Loco dan Spiritual disandingkan maka dapat diinterpretasikan ‘Spiritualitas yang Menggila’ atau ‘Menggilai Spiritualitas’. Locospiritual merupakan proses pencuatan potensi-potensi individu yang mampu merangsang atau menggerakan secara spiritual orang-orang di sekitarnya mampu menimbulkan kesadaran spiritual untuk lebih mengenali dirinya dan mendalami pemahaman ikhwal hukum causa prima, antara manusia dan manusia sekaligus relasi manusia dengan alam serta Tuhannya.  Yang menarik dari perjalanan aktivitas spiritual adalah ketika seseorang dengan kesadaran tertentu untuk mentransformasi aspek ritual dan laku spiritualnya ke dalam artikulasi bersenian.  Ia memanifestasikan daya spiritualitasnya untuk sebuah konstruksi estetik dengan media ungkap seni lukis, mengingatkan kita ketika Sunan Kalijaga melakukan akulturasi-humanistik dengan menggunakan pendekatan kebudayaan (melalui media kesenian wayang dan gamelan) untuk media syiar Islam di tanah Jawa.  Proses seperti inilah yang dianggap sangat efektif dan sporadik untuk sebuah pengayaan interpretasi ajaran dalam pendekatan budaya seperti yang dilakukan para wali ‘wali songo’ di tanah Jawa.  Proses kesenian dan akulturasi merupakan pendekatan strategis untuk menebarkan vibrasi spiritualitas ke masyarakat luas dalam mengelola aspek sosiologis, psikologis dan religiusitas.

Saya tertarik sedikit memancing relasi bagaimana sesungguhnya ada kecenderungan yang berdekatan ketika seni budaya dipergunakan sebagai bagian penting penyebaran Islam di tanah Jawa ini.  Setidaknya penyebaran Islam di Jawa bertumpu pada dua titik penting, yaitu: (pertama) yang bersifat vertikal berupa introduksi, sosialisasi, dan internalisasi ajaran Islam, (kedua) bersifat horizontal berupa pembentukan masyarakat Islam.  Sungguhpun demikian, untuk melakukan hal semacam itu tidak sampai terjadi cultural shock dalam masyarakat Jawa.  Semua ini digambarkan secara penuh simbolik dalam naskah Babad Demak.  Sama halnya dengan naskah Mingsiling Kitab yang kemudian dengan  jelas dijadikan pedoman Keraton Yogyakarta, tak ada kesan bahwa kalangan keratin merasa terintervensi oleh ajaran Islam, melainkan ajaran di dalam naskah itu dianggap sebagai suatu ajaran yang luhur dan dapat meluhurkan pribadi kerabat dan abdi dalem Keraton Yogyakarta utamanya untuk menjadi seorang muslim yang baik dan taat. (Sangidu, Syamsul Hadi dkk, 2006: 6).   Mengingatkan Kanjeng Sunan Bonang yang menciptakan tetembangan dengan penguasaan teknik gamelan yang memesona masyarakat saat itu dengan nada-nada dan syair spiritual Islam.  Hal tersebut juga terjadi pada perkembangan seni karawitan, pewayangan yang dimodifikasi secara arif oleh Sunan Kalijaga untuk memasukan unsur syiar melalui aktivitas kebudayaan yang saat itu sangat dekat dengan masyarakat yang belum siap meninggalkan warisan Hindu.  Sehingga Sunan Kalijaga mengadaptasi dengan kepekaan seni tinggi memerankan tokoh-tokoh wayang yang dengan halus dimasukan ajaran nilai-nilai keIllahian.

Pada pameran ini sesungguhnya tidak secara langsung merelasikan peristiwa-peristiwa di atas, namun lebih pada upaya mendokumentasikan gagasan-gagasan kreatif, bagian dari peristiwa-peristiwa spiritual, dan memberikan vibrasi ataupun insight terhadap masyarakat luas.  Karya-karya yang akan dipamerkan ialah karya periode terakhir sebagai bentuk tanggung jawab religiusitasnya sebagai seorang perupa sekaligus Kyai ke publik luas.  Media kreatif inilah sebagai instrumen komunikatif kristalisasi gagasan, ajaran-tuntunan, hukum dan etika secara implisit sebagai bentuk respons terhadap fenomena sosial tertentu.  Karyanya mengisyaratkan berbagai upaya penerjemahan kembali gagasan kreatif yang sesungguhnya merupakan bentuk rutinitas dari berbagai aktivitas religiusitas dan praktik spiritual yang meletakannya  pada situasi olah spiritualitas yang menggila.

Konsep kuratorial pada pameran tungga ketiga Kyai Fuad Riayadi yang akan dilangsungkan di Jogja Gallery sangat berbeda dengan konsep pameran sebelumnya.  Dua kali pameran sebelumnya dengan bingkai kuratorial Aura Dzikir dan Dzikir Putih, maka kali ini kita mencoba dengan paket berbeda yang diikuti peluncuran buku Locospiritual: The Journey of Spiritual World pada 23 September 2011 di Bandung.  Dalam buku setebal kurang lebih 500-600 halaman ini kami tim penulis (Mikke Susanto, Suwarno Wisetrotomo, Sulebar M Soekarman, Rusnoto Susanto dan Merwan Yusuf) hendak mengurai perjalanan dunia spiritual melalui pencermatan multi perspektif mengenai bagaimana sesungguhnya aktivitas religiusitas dan aspek spiritualitas dimanifestasikan ke dalam proses penciptaan seni.  Buku ini akan mengurai secara spesifik bagian-bagian yang menggerakan obsesi kreatif ke dalam karya seni yang personal.  Menguraikan detail-detail fenomena spiritual ketika pada titik puncak tertentu berada pada situasi spiritualitas yang menggila.  Buku yang dialih bahasakan ke dalam versi bahasa Ingris, Arab dan bahasa Mandarin.  Hal ini untuk memosisikan wacana Locospiritual pada praktik seni rupa global, mempertimbangkan bahasa Arab menjadi bahasa pokok peta seni rupa Timur Tengah, bahwa Dubai menjadi pusat perkembangan seni rupa Timur dan bahasa Mandarin sebagai salah satu bahasa yang memiliki posisis penting dalam pemetaan seni rupa Asia.

Membaca Kembali The Journey of Spiritual World Melalui Artikulasi Visual dalam Tinjauan Estetika

Komunitas pesantren yang dirintis pada area yang memencil 20 km dari pusat kota Yogyakarta.  Daerah pinggiran Pleret di penghujung jalan desa yang dibatasi perbukitan kecil seluas kurang lebih 40.000-60.000 m2 dan sebelah tenggara terdapat lansekap gunung Sentolo seberang sungai Opak yang membentuk seperti sabuk atau selendang yang melengkung dari utara hingga arah barat daya tepat pada dataran rendah.  Di bawah bukit sebelah barat itulah pesantren tradisonal tersebut dirintis sejak tahun 2000 yang lalu dengan menempati area sekitar 5000 m2 yang menganut kecenderungan pengembangan konsep pesantren tradisional. Dikepung wilayah persawahan sejauh mata memandang luasnya muncul gugusan perkampungan baru yang dimukimi keluarga Kyai beserta satu bangunan limasan untuk menginap santri mukim dan satu keluarga santri yang memilih menetap berdampingan dengan Kyai.  Disamping limasan, beberapa barak penginapan santri, dapur umum dan sebuah masjid besar yang tengah dibangun secara permanen di kompleks pesantren tersebut.

Konsep dasar pembentukannya dirintis seorang Kyai tergolong relatif muda, Kyai Fuad Riyadi karena adanya penunjukan dan penetapan garis Kyai yang turun-menurun dari leluhur Kyai Nuriman Mlangi sebagai kakak Pangeran Mangkubumi yang kemudian dikenal sebagai Sinuhun Hamengku Buwono I (Kyai Nuriman cikal bakal kampung Ploso Kuning dan kampung  santri Mlangi) dan Kyai Sangidu Wonokromo. (Fuad Riyadi, 2001: cover belakang).   Mempertahankan romansa tradisional, pola pengajaran internal yang basisnya tradisional, kurikulum yang dikelola secara tradisional, dan konstruksi fisik sarana-prasarana pesantren yang kental citra tradisional.  Namun gaya kepemimpinan yang dibangun pemimpin pondok pesantren dengan rock n’ roll pada akhirnya terjadi pengembangan beberapa konsep kecil di dalam pelaksanaan kehidupan dan pola adventuring religi dengan sentuhan paket-paket konsep modern bahkan posmodern. Lompatan-lompatan dilakukan dalam proses penjelajahan yang melenting dari kebiasaan-kebiasaan tradisi pesantren umumnya, hampir terbuka dengan berbagai perubahan dan merespons berbagai peluang untuk dapat dielaborasi sebagai media dakwah.  Materi, media, strategi pengajarannya senantiasa kontekstual dengan mengacu pada referensi-referensi Al-Qur’an dan Al-Hadist yang disesuaikan dengan konteks sosial yang terkadang dengan pendekatan analitis kontemporer.  Hal ini dikayakan dengan berbagai tinjauan psikologis, sosiologis, antropolgis, estetika, filsafat, politik dan tinjauan etik yang tengah berkembang di tengah masyarakat.

Membaca teks-teks visual yang dipresentasikan pada setiap karya pada pameran kali ini menunjukkan perubahan dan perkembangan yang signifikan dari pameran-pameran sebelumnya.  Jika pada dua pameran sebelumnya mengusung tajuk Dzikir Putih dan Aura Dzikir Putih maka kali ini mengekplorasi Locospiritual sebagai manifestasi pergulatan spiritualitas seorang Kyai yang mendedidikasikan sebagian hidupnya untuk praktik kesenian.  Kyai tak lagi berkutat pada lautan ayat-ayat suci kitab babon, prosa-prosa liris, syair-syair klasik pujangga kuno Islam, riwayat-riwayat Rasul, tenggelam pada perpustakaan manuskrip-manuskrip tua, dan bidak-bidak syariah yang ketat.  Namun, Ia merupakan figur seorang Kyai yang memiliki minat besar pada praktik kesenian sebagai media dakwah, kontemplasi, koreksi, dan proses penyadaran.

Orientasi penjelajahan proses kreatifnya menunjukkan beberapa kecenderungan berkaitan dengan penggalian tematik maupun proses eksekusi artistiknya.  Proses inilah kemudian memosisikan kerja kreatifnya pada pencapaian orientasi estetika yang khas sebagai penentu posisioning dalam praktik kesenian.  Ada beberapa hal yang paling tidak mendasari proses penciptaan karya-karya Kyai Fuad Riyadi yang dapat menjadi penanda progress kreativitas yang semakin berbanding lurus dengan keadalaman spiritualitasnya.

  1. Bertumpu pada Atmosfer Religiusitas

Atmosfer religiusitas yang dibangun Kyai Fuad Riyadi member pengaruh sangat signifikan pada pola kerja kreatifnya baik pada kecenderungan mengolah tema, konsep dasar, eksplorasi artistik dan perjumpaan artistik yang bermula melalui temuan-temuan tak terduga atas estetika yang terbentuk karena kekuatan intuitif seorang Kyai.  Cermati misalnya pada karya ‘Witir Rimba’, ‘Witir Keteguhan’, ‘Sujud Kemenangan’, ‘Min Atsari Sujud’, ‘Rajah Sosrokartono’, dan ‘Roh’.  Pengolahan subject matter ini menunjukkan bahwa bagaimana kepekaan spiritual Kyai Fuad mencerap berbagai aspek fenomenologis yang mengkonstruksi kegelisahan estetik dan gagasan kreatifnya.  Dicuatkannya gagasan kreatif ini pula ia kemukakan sebagai bentuk manifestasi ibadah, kontribusi sosial, intisari filosofis dan perwujudan penuturan seorang arif pada khalayak.

Menarik ketika Kyai Fuad menegaskan melalui kritik visual melalui karya ‘Min Atsari Sujud’. Sujud yang membekas yang sesungguhnya memberikan kritik terhadap kelompok muslim yang bangga mempertunjukkan kening hitamnya bekas sujud.  Sujud yang membekas sesungguhnya bukan pada bekas atau jejak fisik namun dimanifestasikan pada jejak spiritual dan kearifan serta kemuliaan nilai sujud dalam kehidupan sehari-hari.  Sujud bukan sekedar lipstick atas ketundukkan kita pada Sang Khaliq namun lebih difahami sebagai proses penghambaan, berserah diri secara total sekaligus proses penyatuan seorang mukmin pada Dzat yang maha pantas untuk disembah.  Sujud membersihkan noktah bukan mempertunjukkan noktal pada bagian terhormat kita justru, atau malah dilebih-lebihkan sehingga seseorang berbangga dan merasa ibadah (sujudnya) luar biasa dan malah perangainya cenderung ekstrim fundamentalis.

 

 

‘Witir Rimba’, 90x145cm, Acrylic on Canvas, 2010

 

Acapkali pada rangkaian proses kreatifnya ia menjumput sejumlah keterkejutan estetik relasi dunia imajiner ‘inner feeling’ dengan relasi fenomena tertentu, misalnya ‘Witir Rimba’, suatu upaya penggambaran rekaman landscape batin (soulscape) sebagai respons yang sangat jauh berjarak dengan praduga-praduga kemunculan situasi tertentu pada realitas.  Landscape yang mencitrakan situasi misteri dengan imaji tentang pepohonan yang meranggas dan terbakar, beberapa ruang background seolah api masih berkecamuk, ketidakmenentuan angin panas yang membangun ritmik juga bertebaran citra purba yang misterius. Estetika kemudian dikonstruksi seiring dengan penguasaan teknik dan media yang direspons secara intiuitif.  Ekspresi muncul kadang bersamaan dengan gagasan atau dorongan spiritual tertentu yang mengkonstruksinya mengimbangi dzikir yang diulang terus menerus tak berujung.

Ketika dikonfirmasi mengenai gagasan yang dikemukakan secara visual ini, mulanya proses penciptaan karya tersebut mengalir wajar namun pada tahapan tertentu disergap kegelisahan yang luar biasa.  Sesaat kemudian secara intuitif ia mencenderungi mengolah warna hitam dan cokelat kemerahan yang menyerupai citra lidah-lidah api yang meranggas pepohonon.  Meski ada sebagian kecil saja warna hijau lumut terpertahankan.  Kyai Fuad menduga bahwa niscaya akan terjadi fenomena tertentu dalam waktu dekat ini. Beberapa bulan kemudian ia menuturkan bahwa merapi mulai bergejolak dan tak lama kemudian memuntahkan lahar dan awan panas yang membumihanguskan sebagian besar lerengnya hingga mencapai radius kilometer 7.  Sulit dirasionalisasikan dan apalagi untuk sengaja dikaitkan dengan proses seni lukis, namun hal serupa sering ia tandai bersama istri dan para santrinya untuk membaca fenomena alam yang kebetulan dimediasikan melalui kegelisahan kreatif.  Tentu tidak semua karya yang bisa langsung dijadikan tanda pembacaan terhadap fenomena alam tertentu hanya beberapa karya saja yang memiliki karakter semacam ini.

Begitu pula pada proses melukis karya ‘Rajah Sosrokartono’  setelah lukisan tersebut dianggap selesai dengan waktu relatif paling singkat. Kemudian langsung terjadi hujan lebat selama satu jam penuh kendati dengan kelebatan angin yang lembut ‘nyaman’ dan tanpa terdengar badai sedikitpun atau kilatan petir (padahal saban hari di pesantrennya jika terjadi hujan baik kecil maupun deras selalu ditandai atau malah dibarengi dengan pesta kembang api kilat dan gemuruh petir) layaknya simponi musik alam.  Hal tersebut wajar karena posisi pondok pesantren yang berada pada dataran rendah dengan bentangan sawah yang luas dan di lingkari perbukitan gunung Sentolo sehingga sangat potensial petir menyalurkan kepuasannya untuk menjilat bumi.

  1. Eksplorasi Teknik, Eksplorasi Estetik dan Pergulatan Dunia Gagasan Metaforik

Yang menarik dari pameran kali ini, perlu saya catat bahwa kekuatan eksplorasi artistik dan eksplorasi estetiknya semakin menemukan esensi spesifiknya.  Soal konsep dan pengolahan sumber gagasan tentu tak lagi diragukan, hampir seluruh konsep yang mengemuka sarat kandungan nilai filosofis, nilai tutur, metafora dan aspek keluhuran pekerti dengan nuansa spiritual.  Kekuatan teknik yang dieksplorasi makin mendesak untuk diinvertarisasi menjadi kekuatan pokok yang diacu pada proses kreatifnya.  Meminjan testimoni Mikke Susanto menyatakan bahwa “ada desakan wacana bahwa setiap orang berhak jadi perupa, setiap benda berhak menjadi karya. Bisa jadi para hobiis tersebut tak lama lagi bakal sepenuhnya menjadi profesional. Kyai Fuad punya talenta untuk menyegerakan diri sebagai pelukis profesional dan bukan tak mungkin menjadi fenomena. Tinggal sedikit saja langkahnya!”. Tak berlebihan testimoni Mikke di atas karena kini dalam kurun 2-3 tahun ini tengah dibenahi kesiapannya secara professional.  Intinya saya setuju jika Kyai Fuad harus menyegerakan diri menjadi perupa professional tanpa melepaskan profesi sebagai pimpinan pondok pesantren.

 

 

Melodi Kasih’,40x60cm, Acrylic on Paper, 2011 dan  ‘Tasbeh Kemenangan’, 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011

Eksplorasi teknik dan estetik yang paling signifikan perkembangannya yakni pada periode karya yang dominan menggunakan media kertas aquarel dengan teknik monotype.  Aspek artistik yang menggejala ialah pada kelenturan garis spontan dengan menonjolkan tekstur nyata pada bagian-bagian tertentu yang terbentuk secara otomatis ketika proses cetak dilakukan.  Dengan tampilan bentuk dan warna yang minim justru semakin menyiratkan aspek spirituaitasnya jika ditinjau dari kacamata psikologis.  Dengan ritme yang begitu tenang dan dalam, ekspresi liar tereduksi oleh olahan perasaan yang kian nyaman dan confidence.  Warna hitam, cokelat, merah, sesekali biru pada beberapa karyanya hendak mempertunjukkan kepiawaian mengolah imajinasinya tentang warna dan vibrasi garis yang dimunculkan yang merupakan bagian terpenting sebuah manifestasi kepekaan spiritualitasnya.  Coba kita cermati ikon-ikon yang muncul secara intuitif pada ‘Melodi Kasih’ misalnya, disana-sini muncul beberapa ikon yang dapat diidentifikasi atau sekedar didekat-dekatkan dengan kaligrafi ‘Muhammad’ yang secara otomatis ia luncurkan sembari membaca shalawat nabi.  Beberapa bagian utuh terbaca kalimat Muhammad, adapula yang terpotong atau munculnya gestur stereotype kalimat tersebut.  Relasinya dengan judul karya ‘Melodi Kasih’ sesungguhnya bentuk manifestasi spiritual seorang Nabiyullah dan Rasul yang penuh kasih dan kita diwajibkan bershalawat dengan berharaf memperoleh syafaat Kasih yang melimpah sekaligus dirahmati Alloh Swt.

 

‘Sujud  Kemenangan’, 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011

 

Eksplorasi medium bekas kopi yang ditumpahkan diatas permukaan kertas aquarel (Tasbih Kemenangan) dan (Sujud Kemenangan) yang sudah dilukisi dengan warna-warna tertentu, seringkali menimbulkan efek artistik yang mengejutkan.  Efek tumpahan kopi memberi nuansa kedalaman dan memperkuat dramatisasi berbagai bentuk yang hadir pada lukisan tersebut. Secara konseptual masih berdekatan dengan Melodi Kasih, sama-sama merepresentasikan pujian dan shalawat ketika bertasbih dengan bacaan tasbeh.  Ketika melakukan ritual bertasbih kita semua berharap dan dimungkinkan atasnya kemenangan-kemenangan fiduniyah wal-akhirah.  Dengan membaca tanda yang dimunculkan misalnya, secara psikologis bahwa warna cokelat mampu menyiratkan kedalaman, sikap membumi dan keseimbangan ini karakter seseorang yang memiliki tingkatan tertentu dalam bertasbih.  Kemudian aksen warna merah menebarkan energi, kekuatan, vitalitas dan gairah hidup serta aksentuasi warna biru yang inspiratif sebagai sebuah interpretasi kebijakan, kedamaian, ketenangan, kreativitas, dan harmoni.  Begitulah paling tidak ritual bertasbih memiliki kontasi ‘Tasbih Kemenangan’ dan ‘Sujud Kemenangan’ dipresentasikan sebagai sebuah simbolisasi spiritualitas seseorang dalam mencintai sekaligus memuji kebesaran Illahi.

  1. Transpiritual: Floating, Kesadaran Spiritual dan Perjumpaan Nilai Estetika

Proses kreatif yang menggila bermula dari ketertarikan terhadap subject matter, gagasan, ketertarikan-penguasaan media, pencapaian teknik dan proses eksplorasi estetik.  Penjelajahan gagasan dan teknik penciptaan pada karya-karya mutakhir tampak lebih kaya dan eksploratif.  Hal ini ditunjukkan pada kepiawaiannya menguasai media dan teknik kreatif yang otomatism pada bidang permukaan kertas aquarel dengan menonjolkan citra artistik alaprima dan impasto sebagai efek aquarel yang khas.  Transpiritual sesungguhnya tengah memosisikan imajinasi seseorang untuk floating bertumpu pada kesadaran spiritual untuk segera menjumput aspek-aspek ketakterdugaan dan menemukan nilai-nilai estetiknya.  Cermati saja pada karya ‘Fajar Keberkahan’, 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011, ‘Galaxy Cinta-Buah Kasih’ 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011 dan ‘Terangkat’, 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011.  

 

‘Galaxy Cinta-Buah Kasih’ 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011

 

‘Galaxy Cinta-Buah Kasih’ 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011 sekaligus ingin mempresentasikan suatu energi  cinta kasih yang luar biasa untuk mempertautkan perbedaan, emosi, visi maupun libido (kreativitas dan seksualitas).  Gugus ini kemudian membangun galaxy-galaxy baru dengan ledakan dan lesatannya masing-masing bergantung pada mekanisme alam serta kehendak Sang Khaliq. Ada beberapa tanda yang bisa dicermati selekas mungkin ketika berhadapan dengan karya ini untuk mengetahui secara psikologis bahwa warna cokelat mampu menyiratkan kedalaman, sikap membumi dan keseimbangan.  Kemudian aksen warna merah menebarkan energi, kekuatan, vitalitas dan gairah hidup.  Begitu juga warna biru yang inspiratif sebagai sebuah interpretasi kebijakan, kedamaian, ketenangan, kreativitas, dan harmoni.

 

  

‘Fajar Keberkahan’, 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011 dan ‘Terangkat’, 40x60cm, Acrylic on Paper, 2011

 

Pada karya ‘Fajar Keberkahan’ dan ‘Terangkat’,  40x60cm, Acrylic on Paper, 2011 secara teknik sangat ampuh dengan mempresentasikan warna monokromatis abu-abu dan putih dengan beberapa jejak noktal searah dengan kesan tekstural yang mencitrakan barik bumi atau hamparan pasir dengan permukaan menjulang.  Sapuan lembutnya menimbulkan efek psikologis; kemurnian, spiritualitas dan penyucian yang berkorelasi dengan ritual Subuh menjemput fajar penuh berkah dengan suasana jernih, murni dan penuh harapan.  Warna noktah cokelat secara psikologis membangun pencitraan sikap membumi dan mencari pola keseimbangan.  Efek cahaya antara abu-abu dan bidang putih yang dibiarkan begitu saja justru memberi kesan cahaya fajar yang bersih menerpa landscape sebagai citra kemurnian dan kedalaman.

Berbeda visualisasi pada ‘Terangkat’, dengan perspektif mata elang yang memandang seisi alam dengan hamparan warna cokelat seolah flowing membentuk gugus kepulauan yang dihuni makhluk hidup termasuk didalamnya manusia bagian makro kosmos yang terintegrasi.  Apapun di dalam kosmos yang ingin kita analisis ditentukan oleh hubungannya dengan sesuatu yang lain secara integral.  Tak ada entitas yang pasti, hanya perubahan atribusi berlangsung terus-menerus.  Segala sesuatu bersifat ambigu, karena semuanya melekat dalam imajinasi, tarian Dia/bukan Dia.  Sebagaimana komentar Syekh Ibnu ‘Arabi dalam William C. Chittick (2001: 83) bahwa, ‘tidak ada apapun dalam kosmos ini yang tercela ataupun terpuji secara absolut, karena aspek-aspek dan konteks-konteksnya membatasi setiap sesuatu.  Bagi yang akarnya terbatas, bukan tidak terbatas, karena eksistensi sebetulnya adalah terbatas, inilah mengapa bukti yang ada menunjukkan bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam eksistensi terbatas.’

Lebih lanjut Syekh Ibnu ‘Arabi dalam William C. Chittick (2001: 84) menyatakan bahwa ketika sesuatu yang utuh meleleh, maka bentuknya berubah, namanya berubah, dan perintahnya juga berubah.  Ketika cairan tertentu membeku, bentuknya berubah, maka namanya juga berubah, dan oleh karena itu perintahnya menjadi berubah.  Agama wahyu yang turun ditujukan kepada entitas menurut bentuk, keadaan nama mereka yang khas.  Entitas terebut tidak dituju menurut esensinya, dan tidak ada perintah untuk diterapkan kepadanya berkenaan dengan realitasnya.  Inilah kenapa, di antara perintah Syariah, ‘mubah’ menyinggung entitas.  Seperti halnya mengerjakan wajib, perintah, haram serta makruh, yang menyangkut masalah-masalah yang tak ada hubungannya dengan apa yang menimpa entitas di dalam eksistensinya.

Akhirnya saya harus menyatakan secara tegas bahwa bagaimana relasi aspek-aspek spiritualitas dengan aktivitas kebudayaan termasuk proses berkesenian seorang Kyai berkontribusi positif dalam membangun wacana spiritual dan memberikan kesadaran-kesadaran tertentu bagi orang banyak.  Tak sekedar dipahami dan diikuti para santrinya semata.  Paling tidak melalui proses perenungan dan aktualisasi gagasan kreatifnya mamu memberi inspirasi dan menggugah untuk mencermati segala potensi berkaitan dengan aspek-aspek spiritualitas baik secara internal maupun eksternal.  Saya yakin karya-karya Kyai Fuad menjadi bagian penting dalam pengayaan wacana seni rupa kita, menjadi bagian integral dalam membangun-memperkaya khasanah sekaligus memperindah mozaik besar proses kesenian negeri kita mendatang.

* Netok Sawiji_Rusnoto Susanto

(Kurator Independen, Perupa dan Mahasiswa Program Doktor pada Pascasarjana ISI Yogyakarta

 

 

Referensi:

  1. Chittick, Wiliam (2001), Dunia Imajinal Ibnu ‘Arabi, Kreativitas Imajinasi dan Persoalan Diversitas Agama, terj: Achmad Syahid, M.Ag,  Surabaya: Penerbit Risalah Gusti.

Hadi, Syamsu dkk (2006),  ‘Aspek-Aspek Ajaran Islam Dalam Manuskrip Kraton’, Yogyakarta: Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Owens, Elizabeth (2004), ‘Discover Your Spiritual Life’, terj: Hendry M. Tanaja, Jakata: BIP Kelompok Gramedia

Riyadi, M Fuad (2001), ‘Kampung Santri, Tatanan dari Tepi Sejarah’, Yogyakarta: ITTAQA Press

____________ (2010), ‘Lidah Kyai Kampung’, Yogyakarta: Lidah Wali

‘buah kasih’ karya Kyai Fuad Riyadi

 

In CURATORIAL