HYPERLiNKS | World within Our Grasp

HYPERLiNKS

Grip of The World

Netok Sawiji_Rusnoto Susanto*

Hyperlinks nyaris dikonotasikan dengan wacana teknis teknologi simulasi dan pencitraan virtual. Meminjam istilah Hyperlinks yang dihasratkan pada event pameran ini tentu dalam konteks paling sederhana ialah sebuah artikulasi tanda atas realitas jejaring besar yang secara simultan membentuk jaringan-jaringan baru untuk membangun ideologi kreatif di dalamnya. Hyperlinks dalam bingkai kuratorial ini mencoba menerjemahkan sekaligus melakukan langkah praktis dengan mendokumentasikan bagaimana sebuah jejaring besar tersebut dirintis, dikembangkan dan dipelihara. Kemudian jejaring dengan tegas dapat menentukan posisi strategis seorang perupa dan menegaskan eksistensi dirinya di dalam sistem networking. Seorang perupa segera melakukan kesadaran baru ketika berada di dalam gugusan jejaring besar tersebut bukan semata-mata artificial tetapi lebih pada kesadaran substansial.

Pameran bertajuk ‘Hyperlinks’ kali ini sejatinya menjadi tanda yang cukup penting untuk kita telisik lebih jauh dalam memberikan pemetaan kembali beberapa aktivitas kreatif para perupa secara representatif ke publik yang lebih luas. Karena sebuah rangkaian kegiatan pameran atau pemetaan tersebut berkait secara signifikan dengan berbagai lapis stakeholder (art gallery, art museum, art dealer, art collector, curator, art critic, journalist) dan dari serangkaian hubungan jejaring tersebut kemudian menjadi kian berkembang dan seterusnya sehingga membentuk jejaring-jejaring baru yang luar biasa besar di dalamnya. Jika setiap perupa membawa sekaligus mempertemukan jejaringnya (kekuatan jejaring tertentu) maka dapat dibayangkan dalam sebuah aktivitas pameran ini dapat ditautkan, dipertemukan atau mempertemukan begitu luar biasa jejaring tersebut menjadi sebuah gugusan raksasa dengan kekuatan baru yang luar biasa besar dan luas. Keluasan dan kekuatan jaringan inilah yang paling tidak menjadi pemicu ledakan jejaring semacam ledakan data/jejaring dalam ruang cybernetic. Tak hanya itu, karena setiap perupa mengusung visi dan ideologi estetika personal yang tentunya menjadi nilai tawar strategis untuk menentukan sistem networking dan merangsang setiap lapis stakeholder yang masuk di dalam jejaringnya.

Hyperlinks kemudian memunculkan isu penting pada pameran kali ini sebagai upaya berbagi spirit kepada para perupa yang terlibat dan kita semua untuk tetap menjalin relationship dengan berbagai stakeholder serta tetap memiliki spirit networking yang secara terus menerus terbina. Bukan sebatas membina networking dengan stakeholder semata, namun bagaimana kita juga mampu membangun jaringan tertentu dengan melibatkan akses-akses pada dunia wacana seni rupa global yang menjadi concern pada peletakan aspek-aspek pluralitas dan universalitas.

Membangun Jejaring Tanpa Batas – Membungkus Dunia dengan Jejaring

Seni rupa kontemporer dengan tegas meletakkan pluralitas dan universalitas dalam paradigma baru secara signifikan, ketika kita tak lagi berfikir Timur-Barat dan tak lagi mempersoalkan kebedaan perspektif masing-masing visi kreatif komunal maupun personal, maka secara sistemik kita berada pada wilayah bebas dalam pengertian luas. Dengan sendirinya sebuah mata rantai dari tautan terkecil hingga terangkai dalam jejaring yang berjenjang-jenjang dari waktu ke waktu sejatinya terbentuk dalam kesadaran berkesenian yang berorientasi global. Tampaknya dalam perubahan dan perkembangan infrastruktur jejaring saat ini mulai menampakkan visi yang padu dengan pola berpikir, sikap perupa, maupun representasi konseptual yang senantiasa membuka peluang merayakan keliaran aspek-aspek teknis visual mengolah subject matter.

Ketika kita mendekatkan pemahaman masyarakat mengenai konteks ini maka secara tidak langsung terkait dan tak lepas dengan konteks jejaring pada ruang virtual yang banyak mengambil posisi penting dan strategis dalam merangkai jejaring. Alasannya sederhana karena pada ruang maya dapat dengan mudah, cepat, praktis, dan efisien untuk sebuah jejaring di rintis bahkan dikembangkan. Puncak pencapain melalui jejaring maya tentu dengan asumsi yang sama dengan pencapaian hubungan relationship secara langsung dengan berbagai stakeholder itu sendiri. Simulasi jejaring dalam ruang maya sungguh sangat meyakinkan bagi kita semua untuk menjaring berbagai upaya pendekatan kita dengan berbagai wacana yang berkembang baik dari pendekatan aspek pasar wacana maupun aspek wacana pasar. Sistem jejaring yang menjadi mediasi kita saat ini tidak hanya dimaknai sebagai perpanjangan sistem komunikasi antar manusia, akan tetapi perpanjangan hampir setiap aspek kehidupan manusia (tindakan, aksi, reaksi, komunikasi) yang mampu mentransformasi berbagai bentuk aktivitas bisnis dan pergerakan ekonomi serta politik kreatif yang terkait langsung dengan target nilai seorang perupa yang ditentukan sebelumnya.

Perupa dengan visi kontemporer kini dapat melakukan berbagai aktivitas (kebudayaan, sosial, ekonomi) dalam jarak jauh (telepresence) tanpa harus melakukan proses perpindahan di dalam ruang-waktu dari stasiun ke stasiun lainnya, sebab yang disebut stasiun itu kini telah terkoneksi secara virtual lewat jaringan internet dan cyberspace. Berbagai kemudahan Web disebabkan oleh hadirnya bahasa universal, yakni Hypertext Markup Language (HTML), yang menyusun sebuah file sehingga komputer dapat menata data pada jendela lacak sambil membiarkannya terhubung dengan file-file lain –hyperlinks yang pada umumnya ditandai dengan warna biru. Hanya dengan klik terhadap cetak biru tersebut komputer akan segera terhubung dengan file di Uniform Resource Locators (URL) lainnya. Jejaring yang luar biasa tersebut dalam HTML kemudian memungkinkan setiap orang menciptakan isi yang kemudian menempatkannya dalam web. Hasilnya adalah semacam ledakan data. Ini adalah gambaran sederhana mengenai hyperlinks dalam konteks dunia cybernetic.

Nah, dalam perspektif yang berbeda kita berada dalam wacana sekaligus praksis hyperlinks. Paparan diatas menujukkan seorang perupa dengan berbagai peran, kapasitas jejaring, dan eksistensi sosiologisnya tentu senantiasa terbungkus dengan jejaring-jejaringnya. Artinya setiap individu senatiasa membangun sekaligus mengembangkan sistem jejaring tanpa batas yang mampu membungkus dunia dengan jejaring. Sebut saja bagaimana Agus ‘baqul’ Purnomo, Anggar Prasetyo, Antoni Eka Putra, Askanadi, AT Sitompul, Ida Bagus Putu Purwa, Wahyu Gunawan, Donni Kurniawan, Entang Wiharso, Firman Lie, Kukuh Nuswantoro, Lugas Syllabus, Sigit Santoso, Yurnalis Bes, Valasara, Wadino, Wayan Redika, Deddy Sufriadi, Anthonius Kho, Hadi Soesanto dan Freddy Sofyan begitu luar biasa merintis karir keseniannya dengan membangun, mengembangkan dan merawat jejaringnya dengan selalu menjaga intensitas hubungan interpersonal secara baik.

Pada arus informasi dan budaya global dewasa ini sebuah peluang keniscayaan begitu luas terbukan dengan berbagai akses. Bahkan sistem jejaring pada cyberspace banyak dijadikan mediasi yang sangat efektif bagi perupa untuk menghimpun jejaring tanpa batas. Nampaknya, salah satu ciri masyarakat dengan balutan budaya kontemporer kian meyakinkan bahwa dunia kini dalam genggaman. Secara transparan kesadaran tersebut menjadi komitmen kolektif pada akhirnya untuk mempertemukan dan menyatukan visi kreativitas mayarakat seni. Hal ini menarik karena sebuah penanda kesadaran global telah menjadi kebutuhan dan tidak sekadar trend teknologi semata.

Dalam kehidupan kreativitas kesenian kita hari ini, tanpa kesadaran global tentu tak akan terjadi komunikasi antar jejaring sehingga konteks pertumbuhan dan percepatan akumulasi jejaring mustahil tergapai. Begitu leluasa peran perupa ketika menghadapi berbagai bentuk pertumbuhan dan percepatan akumulasi jejaring itu sendiri, karena dengan besaran gugus jejaring seorang perupa kian bergiat memperoleh pengakuan eksistensi dalam jejaringnya maupun di luar jejaringnya. Seorang perupa dapat diperhitungkan atau tidak sangat bergantung pada kemapanan sistem networking yang handal. Kita sungguh tak dapat membayangkan seorang perupa tanpa jejaring yang cukup baik untuk mensosialisasikan pemikiran melalui karya-karya seni yang mati-matian dibelanya, dan sebaliknya kita juga dapat menyaksikan sebuah kesuksesan-kesuksesan besar dari seorang perupa yang memiliki kesadaran, dedikasi maupun etos kerja yang luar biasa untuk membangun sekaligus mengembangkan jejaringnya tanpa batas.

Ini berarti bahwa kesadaran global menjadi hal penting untuk menumbuhkan kesadaran-kesadaran eksistensi untuk dihasratkan pada sebuah aktivitas –mobilisasi- jejaring untuk keniscayaan sebuah posisioning terbaiknya dalam memberikan nilai tawar ke hadapan publik secara luas. Ambil contoh seorang Entang Wiharso, Dadang Christanto, Heri Dono, Eddi Hara dan sederet nama perupa yang tak asing lagi berkelebat melenting-lenting di gugusan awan bukan sekadar menikmati sensasi jejaringnya semata namun lebih kepada upaya pemecahan problem keciutan nyali perupa kita. Mereka mampu membongkar kepadatan hubungan relationship dengan jejaring global yang hendak dicairkan hanya dengan tekad bahwa sebuah pilin jejaring-jejaring yang begitu harmonis dan meyakinkan dengan pencapaian-pencapaian terbaiknya. Tentu ini menjadi semacam elaborasi sederhana untuk mendedah secara luas perihal hyperlinks.

*perupa dan kurator independen

 

 

 

Hyperlink is almost always associated with the discourse of virtual imaging and technological simulation. The term Hyperlink adopted in this exhibition is that in its simplest context which can be defined as an articulation of signs on the reality of gigantic network which simultaneously forming new networks to construct creative ideology inside.

Hyperlinks in this curatorial frame try to interpret as well as to take practical steps in documenting how this large network initiated, developed, and maintained. In turn, this network then will be able to firmly determine the strategic position of an artist and established his existence in the system. Within the large network, an artist is required and challenged to embrace a new form of consciousness—the substantial consciousness instead of the artificial one.

This exhibition entitled ‘Hyperlinks’ is presented to serve as a significant sign inviting us to observe deeper in order to re-organize the positioning of creative activities of the artist representatively to the wider public. This mapping is significant because series of exhibition activities always involve various levels of stakeholders such as art gallery, art museum, art dealer, art collector, curator, art critic, and journalist. This network of stakeholders will continuously develop and in turn it will produce new and larger networks inside the circle of the initial net. If every artist brings and introduces his own networks along with its strength and potential to an exhibition, we can imagine how an exhibition activity will not only serve as an exhibition of art works but it will also play an important role in the interconnection of personal networks which eventually will form a gigantic new formation of networks with wider spectrum and stronger capacity. The unlimited spectrum and the power of this network in turn will at least be the trigger of the emergence of network explosion similar to data or network explosion in cybernetic space. Moreover, the personal vision and aesthetic ideology of each artist brought into the scene will give a strategic bargaining power to determine the system of networking and to invite stakeholders to enter the net and to be involved in it.

Hyperlinks then give significance to this exhibition because it serves as a spirit of sharing among the artists and stakeholders involved to continuously built relationship and to preserve the existing spirit of networking. The spirit then is expected to not only inspire parties involved to build wider and larger networks but also to challenge the artist to be able to build particular network involving access to the global discourse of fine arts which has concern on the establishment of aspects of plurality and universality.

Creating Limitless Network-Wrapping the World with Network

Contemporary fine art firmly placed plurality and universality as a new paradigm when we no longer think of East versus West and when we already put aside the problem of differences in each communal and personal creative vision. When we are able to do so then we systemically place ourselves in the free area in wide perspective. Obviously, chain of networks from its smallest link to its wider and multi level networks can only be develop inside an artistic consciousness that has global orientation. It seems that inside the alteration and development of network’s infrastructure nowadays we can see its integration with way of thinking, attitude, and conceptual representation of artists which continuously open the opportunity while celebrating the wildness of aspects of visual technique in dealing with subject matter.

If we place this understanding closer to the community then we can see that this consciousness to build global networks is indirectly connected with and always able to be associated to the context of network within the virtual world. The reason is simple, the virtual world provides easy, fast, practical, and efficient tools to enable network to be initiated and developed. The highest achievement of virtual networks can now be put in an equal position with the highest achievement in direct relationship with stakeholders itself. The simulation of network in the virtual space convinces us to collect various approaches in the array of developing discourses from the point of view of discourse market aspect and market discourse aspect. This current mediator is not only regarded as the extension of interpersonal communication, but also the extension of almost every aspect of human life (action, reaction, and communication). Thus, it is able to transform various kinds of business activity, economic movement, and creative politics which directly related to the value of an artist.

Artist with contemporary vision is now able to do all kinds of activity (cultural, social, and economy) without having to move within space and time from one station to another because those stations have been interconnected virtually through internet networks and cyberspace. The presence of a universal language that supports the simplicity of many webs is called Hypertext Markup Language (HTML). It sorts files so that the computer can arrange data in the track and allow it to link to other files—hyperlinks are generally marked with blue color. Just click on the blue lines on your computer and you will immediately be connected to other the files in other Uniform Resource Locators (URL). This magnificent network in HTML then enables every person to create contents and place them in the web. The result is a data explosion. This is a simple description of hyperlinks in the context of cybernetic world.

Now, in a different perspective we are situated in the discourse as well as praxis of hyperlinks. The description above shows that every artist with their personal role, network capacity, and sociological existence will always be surrounded by their networks. It means that every individual is consistently creating and developing limitless network system which is able to cover the world with networks. In this exhibition we can see how Agus ‘baqul’ Purnomo, Anggar Prasetyo, Antoni Eka Putra, Askanadi, AT Sitompul, Ida Bagus Putu Purwa, Wahyu Gunawan, Donni Kurniawan, Entang Wiharso, Firman Lie, Kukuh Nuswantoro, Lugas Syllabus, Sigit Santoso, Yurnalis Bes, Valasara, Wadino, Wayan Redika, Deddy Sufriadi, Anthonius Kho, Hadi Soesanto and Freddy Sofyan build their career as an artist by developing and maintaining their networks as well their interpersonal relationship in an exceptionally good manner.

In the free flow of information and global culture nowadays, the opportunity of certainty is widely open and completed with limitless access. In fact, many artists utilize the cyberspace network as an effective mediator to place themselves in the map of the world of global fine art. It seems that one of the characteristics of contemporary society convince us that the world is indeed within our grasp. Transparently, this consciousness has transformed into collective commitment to link and unite the vision of creativity in art community. It is a very interesting development because it signifies global consciousness as a need rather than a technological trend an sich.

In our artistic life nowadays, without global consciousness there will not be inter networks communication which consequently will block the development and will make acceleration of network’s accumulation impossible to achieve. Artist have limitless role in facing the growth and acceleration of the accumulation of networks because the large spectrum of their networks will support them to achieve their existential recognition inside and outside their networks. Whether or not an artist will get his acknowledgement depends highly on the establishment of their network system. We can imagine how hard it is for an artist to communicate his art works that he really believes in without sufficient networks. We can also see the magnificent success of an artist that has realization, dedication, and extra ordinary work ethic to build and develop his networks limitlessly.

This means that global consciousness is significantly important to grow existential consciousness inside the passion of mobilizing networks to guarantee the artists its best position and to give him powerful bargaining position in wider public. Entang Wiharso, Dadang Christanto, Heri Dono, and Eddi Hara just to name a view are artists that already has an established position in the world of fine art which enable them to not only enjoy the sensation of their networks but to also overcome the problem of the lack of confidence and determination of our artists.

Those artists mentioned above have already been able to break through the boundaries and create a global networks with a strong believe that only a strong and harmonic network will guarantee the acknowledgement of their greatest achievements. Certainly, this is a kind of simple elaboration to explore hyperlinks further.

*artist and independent curator

 

In CURATORIAL