HYDRO-DYNAMIC | Cultural Exchange and Local Wishdom Exploration

Ada suatu istilah ‘jika seseorang sudah menjejakan kaki, menghirup udara, merasakan air minum di suatu negeri dan di sinilah seseorang akan mulai mengenal bagaimana kebudayaan yang tumbuh di sebuah komunitas negeri tersebut’.  Karena energi tanah, udara, dan air dalam tubuh seseorang menggerakan semua neuron secara kinetis merangsang jaringannya untuk merespon semua aktivitas yang dinamis di sekelilingnya dengan nyaman dan mendalam.  Begitu juga sebuah kerja budaya sesungguhnya menganut sistem kerja hydro-dynamic dalam berbagai keadaan, layaknya dinamika air yang terus menerus bergerak, menekan, dan menerobos semua ruang-ruang melalui potensi energi yang tak dapat diperkirakan.  Aktivitas budaya dari jaman ke jaman berada pada konstruksi tersebut dalam situasi, konteks, tantangan dan problematik-problematiknya.  Karena budaya muncul dari kekuatan kesadaran yang luhur untuk memosisikan manusia pada derajat yang lebih tinggi, maka manusia senantiasa mengoptimalisasikan potensi intelektualitas, kesadaran spiritualitas, dan ketuntasan segenap potensi yang melekat pada dirinya untuk menemukan sebuah identitas-identitas baru.

 

Penggalian budaya melalui kesadaran local wishdom pada masing-masing negeri tentu saja sebagai nilai pokok menggerakan berbagai arus budaya asing sebagai komponen penyumbang dalam praktik akulturasi.  Sebuah praktik dimana arus-arus budaya dari berbagai negeri yang masuk dan melebur dalam berbagai aktivitas masyarakat dalam semangat multikulturalisme.  Melalui program cultural exchange yang sering dilakukan dengan program pertukaran mahasiswa, seniman, atlet, ilmuwan, budayawan, antara dua negara untuk memperkenalkan nilai-nilai local genius sebagai potensi budaya masing-masing dan mempromosikan potensi masyarakatnya.  Dalam pameran ini Nafa’s Residensi Yogyakarta dan Chandan Galeri Kuala Lumpur yang bekerjasama dengan Muzium dan Galeri Tuanku Fauziah Universiti Sains Malaysia Penang, Malaysia merupakan implikasi spirit Cultural Exchange With Local Wishdom Exploration dalam memberdayakan konsep Hydro-Dynamic.

Chandan Galeri dan Nafa’s Residensi melalui program residensi cicle #1 dan cicle #2 mengirim sejumlah seniman Malaysia (Anisa Abdulah, Anissa Azis, Hirzaq Harris, Shahrul Hisham, Ruzzeki Harris, Mariana Saleh, dan Muhammad Syahbandi Bin Samat) ke Yogyakarta untuk melakukan riset dan workshop bersama selama satu bulan dengan seniman-seniman peserta residensi dari Yogyakarta (Imam Santoso, Mulyo Gunarso, Dona Prawita Arissuta, dan Anton Subiyanto).  Program tersebut diantaranya melakukan visiting ke studio-studio seniman setempat, talk with curator (Kuss Indarto, Sujud Dartanto, Rusnoto Susanto dan Suwarno Wisetrotomo). Kemudian melakukan tinjauan ke berbagai galeri seni, berbagai lokasi budaya, dan melakukan wisata budaya ke lokasi bersejarah atau situs-situs purbakala.  Visiting ke studio Komroden, Nasirun, Dedy Sufriadi, Rocka Radipa, Lugas Sylabus, Rusnoto Susanto, AT. Sitompul, Donna, Agus Suwage, Ria Pappermoon, dan lain-lain).  Disamping itu mereka juga mengunjungi berbagai ruang pameran diantaranya; Langgeng Art Foundation, Sangkring Art Space, Taman Budaya Yogyakarta, Jogja Gallery, Museum Oei Hong Djien dan Cemeti Art House) maupun mengunjungi lokasi bersejarah di Yogyakarta (Taman Sari, Kraton Yogyakarta, Borobudur, Prambanan, Boko, dan berbagai museum).

Begitu pula Nafa’s Residensi Yogyakarta mengirim seniman (Rocka Radipa) dan kurator (Rusnoto Susanto) dari Yogyakarta ke Malaysia sealam satu bulan penuh untuk melakukan riset yang bekerjasama dengan Kebun Rupa di Muzium dan Galeri tuanku Fauziah (MGTF) USM Penang.  Dalam proses tersebut mengekplorasi berbagai tempat penting di Pulau Penang hingga ke kepulauan Langkawi.  Di Penang didampingi Professor Madya Hasnul Jamal Saidon seorang New Media Artist, ahli Elektronic Art, Pensarah New Media Art di USM dan Direktur Muzium dan Galeri Tuanku Fauziah Universiti Sains Malaysia.  Program residensi dalam keseharian baik di studio, MGTF, menelusuri George Town (Unesco Heritage), maupun trecking menaklukan bukit di Tanjung Bahang, Feringghi, bahkan berlayar mengelilingi Kilim Geoforest Park di Langkawi selalu saja di isi dengan perbincangan-perbincangan serius mengenai seni, filsafat, cross culture, semiotika, new media art, cyberculture dan critical theory.  Program residensi di Kebun Rupa MGTF tersebut seringkali mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah dan situs-situs sejarah seperti di Lembah Bujang, George Town, Menson Peranakan Penang, Masjid Jameek, dan berbagai sudut bandar-bandar penting di seluruh Pulau Penang.  Tak saja melakukan penelitian namun kita juga melakukan Artist Talk dalam format kuliah umum, sembang maupun seminar akademik di beberapa kampus seni; perkuliahan mahasiswa akhir New Media Art Fakulti Seni Halus di Universiti Sains Malaysia, USM Penang, di Fakulti Seni dan Rekabentuk Universiti Teknologi Mara (UiTM) Perak, dan di Fakulti Seni Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Tanjung Malim, Perak.

Serangkaian program residensi tersebut menghasilkan berbagai karya yang di dipamerkan di Langgeng Art Foundation Yogyakarta dan Chandan Galeri Kuala Lumpur. Kita bisa saksikan bagaimana mereka berinteraksi dengan budaya yang diserap selama mereka melakukan residensi.  Berbagai kecenderungan yang sama ditemui baik perilaku masyarakat, budayanya, gaya hidup, maupun spirit di tempat yang baru.  Karena mengingat di dua negara yang sesungguhnya memiliki kemiripan secara kultural maupun perubahan budaya dalam konteks urban culture.

 

  1. Arus Besar Urban Culture dan Problematiknya

Ketika arus besar urban culture merangsek di sudut-sudut kota besar dunia secara sistemik membentuk karakteristik masyarakat ke dalam sebuah situasi serba hybrid, crowded, individual, materialistik dan berbagai pencitraan life style yang dinamik menjadi ciri utamanya.  Semua penduduk kota mempresentasikan kesibukan dengan aktivitas tinggi, perubahan fashion, gestur-gestur yang apatis, kendaraan yang melacu cepat, hiruk-pikuk deru knalpot berbaur dengan suara klakson memekakkan gendang telinga, artikulasi tanpa basa-basi dan tegur sapa dan semua hal yang tampak aneh namun dianggap sebagai idealisasi-idealisasi baru yang melampaui post humanisme.  Perubahan besar-besaran baik secara fisik maupun kultural menjadi acuan pengamatan problematiknya.  Tak sedikit seniman dunia merefleksikan arus besar ini sebagai medium untuk melakukan kritik terhadapnya.  Dan, tak jarang seniman yang merayakan fenomena penting ini sebagai penanda peristiwa jiwa jaman.

 

ANISA ABDULLAH  

Anisa Abdulah biasa dipanggil dengan panggilan manja ‘Arab’ menuntaskan studinya dengan meraih Bachelor (Hons.) Fine Art, Majoring in Painting, UiTM Shah Alam Malaysia.  Anisa adalah salah seorang penerima anugerah Selangor Incentive award, Open Show Shah Alam, Gallery Shah Alam, dalam ajang Art Competition, Open Show, Shah Alam Gallery, Shah Alam, Selangor 2009.  Anisa yang dilahirkan di Poland Warsaw, sejak kecil ia mengikuti ayah dan ibu yang sering traveling ke berbagai negara yang bekerja di Embassy Malaysia.  Secara otomatis Anisa berpeluang melihat kota-kota besar dunia yang memiliki kekahasan dengan karakteristik urban culture.  Begitu juga kini Anisa bermukim di Ampang sebagai salah satu kota yang sangat bussy di Kuala Lumpur.  Dan, di situlah ia dibesarkn dalam kontek masyarakat uban yang setiap saat diwarnai hiruk-pikuk akrivitas masyarakat kota metropolis dengan pelbagai kendaraan.

Ketika Anisa menempuh program sebagai artist residency di Nafa’s Residency Jogjakarta selama satu bulan untuk riset dan memperoleh insight dari pengamatan dekatnya mengenai kebudayaan dan berbagai temuan-temuan khusus aktivitas masyarakat Jogjakarta yang multikultural yang kemudian di jadikan bahan pengolahan aktivitas kreatif bersama teman-teman dari Indonesia dalam pola workshop di studio.  Tentu saja ia tak memungkiri ada berbagai landscape kota Jogjakarta sebagai kota yang terbuka dengan urban culture yang menarik memicu aktivitas kreatif sebagai subject matter yang tak habis tergali.  Dalam interview saya dengan Anisa melalui chattroom media sosial ia menyatakan bahwa; saya melihat dan melukis apa-apa saja yang nampak, capture disana, tempat-tempat khusus yang menarik lagi khas, dan culture serta orang-orang disana sahaja sudah menarik perhatian saya utk berkarya.  Anisa memiliki interest yang tinggi terhadap aktivitas masyarakat Jogjakarta, atribut, properti, fashion, dan keramah-tamahannya menjadikan culture capital tak ternilai untuk menyerap energi kreatif maupun passion sebagai pola kerja kreatif seorang Anisa.

Kesan pertama saya ketika berhadapan dengan karya-karyanya yang maskulin jauh dari kesan bahwa karya tersebut dikreasi oleh seorang perempuan muda.  Beberapa saat kemudian ketika saya ke Kuala Lumpur menemui kembali karya-karyanya baik di galeri maupun di studio kampusnya, saat itulah saya baru tersentak karena pelukisnya adalah seorang perempuan berdarah Arab dan berjilbab.  Keterkejutan saya merupakan refleks dari ketidaktahuan saya sebelumnya, saya membayangkan karya semacam ini dikerjakan oleh pelukis macho, bertatto, rambut gimbal, perokok, maniak kopi dan sedikit penggemar ganja. Namun, kesan tersebut dipatahkan tiba-tiba ketika saya tahu bahwa Anisa jauh dari figur pelukis yang saya bayangkan, justru sebaliknya.

Karya-karya Anisa Abdullah misalnya Coffee break’, 181,5 x 121 cm, Collage on Canvas, 2012 sesungguhnya menggambarkan perilaku masyarakat urban melalui penggalian aspek kehidupan sehari-hari yang ia temukan dalam kehidupan baik di lingkungan ia dibesarkan maupun di lingkungan persinggahannya di beberapa kota besar termasuk ketika ia melakukan program residensi di Yogyakarta.  Saat ia berjalan melalui jalan-jalan Yogyakarta, melewati deretan toko-toko, bangunan-bangunan kolonial, kehidupan malam dengan maraknya kafe-kafe dan sederet perilaku khas Jogja, ia menemukan insight dari subjek-subjek yang terkoneksi pada ingatannya mengenai kondisi kota urban lainnya yang ia jumpai.  Namun, Jogja memiliki kekhasan tersendiri dengan atmosfer seni budaya dan keramah tamahan masyarakatnya.  Kesibukan kota ditransformasi ke ruang-ruang virtualnya dan dipresentasikan dalam kanvas.  Ia hendak membayangkan situasi baru dalam hiruk-pikuk kota bahwa kadang-kadang kita perlu sedikit istirahat di hari-hari sibuk kami. Berhenti dan chatting untuk sementara waktu, untuk minum secangkir kopi dengan orang yang kita cintai. Kadang-kadang hidup menjadi terlalu sibuk, kita bahkan mungkin lupa untuk menyapa orang-orang terdekat kita sekalipun.  Ia tertegun dengan sudut-sudut kota sesaat ia membuat sketsa gambar dari sebuah becak di tengah-tengah kota.  Mari kita mengambil perjalanan pendek sejenak dan menikmati pemandangan kota.  Duduk, santai, bernapas, menghargai.  Kita tidak boleh melupakan hal-hal kecil dalam hidup yang benar-benar bisa membawa sukacita bagi hati kita, begitu penuturannya.

 

ANTON SUBIYANTO

Anton Subiyanto lahir di Yogyakarta, 29 September 1980 pernah menempuh studi Seni Murni ISI Yogyakarta.  Anggota Taring Padi ini dalam proses kreatifnya intens mengeksplorasi teknik drawing sebagai cara ungkap spesifik, drawing menjadi bagian penting dalam background karya-karyanya dan sesekali mencuat ke frontground untuk shocking.

Ada tiga konsep penting yang dikemukakan Anton Subiyanto melalui pengolahan bahasa tubuh, visual, bunyi, musik, dan sejumlah properti performance art yakni apatis, turistik, dan bertetangga.  Apatis sering dipahami dalam pandangan psikologis untuk menjelaskan keadaan psikis dan bentuk perilaku ketidakpedulian, dimana seorang individu tidak menanggapi rangsangan kehidupan emosional, sosial, maupun fisik.  Konsep performance art yang digagas Anton Subiyanto kali ini berupaya mempresentasikan mengenai pernyataan subjektifnya dengan cerapan berjarak dengan subjek pokok melalui detail-detail yang tumbuh dari referensi mengenai persoalan-persoalan tertentu.  Kemudian memunculkan kontras dan friksi baik pandangan personal maupun sosial yang mereduksi kepekaan emosi, motivasi, toleransi, antusiasme mencermati gejala sosial dengan persoalannya. Sikap apatis yang cenderung memproduksi pandangan, berpotensi membuat jarak yang sesungguhnya wujud nyata frustasi sosial yang berpotensi mengikis kepekaan sosial, semakin cuek atau acuh tak acuh dan hilangnya kehendak masyarakat untuk melihat persoalan lebih dekat.

Turistik, sebuah fragmentasi pengalaman Anton Subiyanto terhadap hubungan individu dengan sesuatu yang asing dengan ruang pandang serba terbatas dan desakan emosi keterpukauan yang mengedepan melampaui tindakan identifikasi-identifikasi.  Keterpukauan yang cenderung menyeret seseorang masuk ke dalam konstruksi sosial terbatas pada rekaman kontras landscape panoramik, eksotika visual belaka dan banalitas. Sikap ini sekonyong-konyong menerabas peran logika yang tergantikan dengan decak kagum, gumun, dan keterpesonaan di dalam ruang teropong atau ketakberdayaan retina kita melalui bidikan lensa mikro dan jepretan kamera dengan kecepatan tinggi yang merekam gejala visual sebagai momen estetik dalam hitungan detik.  Tentu saja analogi ini tidak seluruhnya mampu mempresentasikan turistik dalam konteks sosial dengan sejumlah persoalannya. Detail-detail inilah yang mengemuka dalam eksplorasi artistik karya Anton Subiyanto baik dalam karya dua dimensi maupun projek performance art.

Bertetangga, konsep ini mengartikulasikan bahwa sesungguhnya hubungan antar komunitas masyarakat menjadi bagian penting membangun konsep dan filosofis bertetangga mungkin saja bisa meluas pada konsep keluarga.  Sebuah konstruksi sosial yang sesungguhnya makin kehilangan ruh dalam interaksi sosial, proses eksistensi, dan aktualisasi diri di dalam komunitas dan antar komunitas.  Alangkah beruntungnya jika kita dapat hidup bertetangga dengan komunitas masyarakat dengan pribadi-pribadi yang mulia. Dan, alangkah kurang beruntungnya kita, jika bertetangga dengan komunitas masyarakat yang usil, buruk sangka, kisruh dan menguasai tetangga lainnya.  Sedapat mungkin kita mampu merdekakan diri kita dengan tetap berbaik sangka, menghargai posisi dan privasinya, menjaga harkat dan kehormatannya, berbuat baik tanpa banyak berharap dari tetangga untuk bersikap seperti yang kita dedikasikan dalam hubungan bertetangga.

Pada sesi pungkasan perbincangan, Anton Subiyanto menyatakan bahwa   performance art baginya seperti halnya proses drawing. Menuangkan gagasan visual melalui penjelajahan esensi-esensi garis yang menegaskan kembali perihal ini pada seri karya-karya dua dimensi yang sesungguhnya ia tengah menjelajahi eksistensi diri dan kehendak menemukan impian-impiannya dalam realitas sosialnya sebatas outline.  Bagi saya pernyataan ini menarik garis tegas relasi sosialnya dengan impian dan proses berkeseniannya yang mempresentasikan outline menjadi sesuatu yang pokok untuk menghadirkan misteri dan serba ketakmenentuan narasi sosialnya.

 

Dona Prawita Arissuta

Lahir di Sleman Yogyakarta, 8 Juni 1976 menempuh studi Keramik di ISI Yogyakarta (2005) dan Post Graduated Program pada Religius and Cultural studies, Sanata Dharma University, Yogyakarta (2011).  Dona adalah Finalis Nokia Award Regional 2001, Favorite Jury, Kedawung Glassware Print design competition Award 2002, dan Finalis Young Sculpture Competition ICC Pandaan 2010. Dona mengeksplorasi media ekspresi pada berbagai medium ungkap sebagai kehendaknya untuk mempertahankan unsur dasar seni keramik pada karya dua atau tiga dimensi.  Dona begitu yakin dan mempercayai bahwa keramik dapat menyesuaikan diri dengan langgam dua dimensi sekalipun dengan mengolah dan mengeksplorasi persoalan keseharian tentang  berbagai hal sederhana seperti perabot rumah tangga, jajanan  bunga, taman, tempat tinggal, dan banyak perangkat tradisi pada masyarakat di sekitarnya.   Dengan menekankan pada  peran utama perempuan dalam persoalan sehari-hari tersebut (memasak, mengasuh anak, mendidik, mencari nafkah, melahirkan, bahkan menentukan masa depan diri dan anak-anaknya) karena ia yakin bahwa aktivitas kesaharian tersebut menjadi “ruang” ingatan, bangunan ruang-waktu, memori, dan kenangan seseorang.  Bagi Dona tema keseharian tersebut menjadi basis tradisi yang sulit ditaklukkan oleh perubahan karena sangat dinamis dan terus melakukan penyesuaian.

Khusus pada projek residensi, Dona selalu memasukkan unsur media keramik ke dalam kanvas dan melukis di permukaan keramik. Saat ini ia fokus membentangkan perspektifnya mengenai aktivitas keseharian para buruh migran perempuan, terutama para pekerja rumah tangga.  Ketertarikannya pada isu buruh migran perempuan karena aktivitas mereka sebagai pembantu rumah tangga merupakan jenis pekerjaan kasar yang paling bawah dalam strata pekerjaaan kaum buruh tetapi dengan resiko paling besar.  Dona menyatakan bahwa, sejenis pekerjaan dapur, menjaga anak, membersihkan rumah, dan lainnya terlihat sederhana tetapi  sangat rentan memicu kekerasan psikis maupun fisik sekaligus.  Sebuah ruang profesi berdurasi 24 jam non stop terasa tak cukup untuk menuntaskan pekerjaan rumah tangga.  Para buruh migran perempuan dalam setiap hela nafasnya sesungguhnya telah dikepung pekerjaan dan diteror waktu, sehingga presentasi jam dinding pada karya Dona yang berwarna hitam dan putih (presentasi bentuk bidang kotak, jenjang, bulat, oval, bahkan mulur memanjang maupun meninggi) dengan background merah seolah Dona tengah menuturkan sebuah kepastian waktu sekaligus ketidakpastian waktu yang dibelah-belah sebagai teror untuk buruh migran perempuan yang harus tetap tangguh menuai risiko-risiko terburuk sekalipun.  Dona seolah tengah mengkrisi dominasi kuasa modal dan kuasa soaial dalam praktik hidup sehari-hari. Warna merah menuturkan teror, kekerasan, sekaligus ketakberdayaan dalam artikulasi visualnya.

 

  1. Arus di Kedalaman Wacana Post-Hybridity

Anissa Azis, Mohamad Hirzaq Bin Abdul Harris (Hirzaq Harris), Mulyo Gunarso, dan Ruzzeqi Harris menggali wacana post-hybridity sebagai cara mendekatkan kesadaran kita dengan subjek.  Ada semacam arus kesadaran terhadap problem-problem lingkungan hidup, prilaku sosial, dan perubahan budaya yang tengah bergerak melaju dan menemukan pola-pola hybrid.

ANISSA AZIS

Anissa Binti Abdul Aziz seniman kontemporer muda Malaysia kelahiran 13 July 1984 merupakan sedikit seniman muda potensial yang memiliki prospek baik. Perempuan muda yang dilahirkan di Selangor Darul Ehsan Malaysia pada tahun 2011  meraih Master of Art & Design (Fine Art & Technology) Department of Post Graduate Studies, Faculty of Art & Design Universiti Teknologi MARA, Jalan Othman, Petaling Jaya, Selangor.  Pada 2007 Anissa juga menempuh Bachelor of Fine Art with Honors (Sculpture) Faculty of Art and Design  Universiti Teknologi MARA, Shah Alam.  Anissa merupakan FINALIST MALAYSIAN EMERGING ARTIST AWARD (MEAA) 2009, Kuala Lumpur dan pernah meraih 1st PRICE – CATEGORY MIXED MEDIA, Tanjong Heritage 2006: KL/Selangor Art Competition by Tanjong Public Limited Company.

Anissa Aziz dalam menggali ide sekitar aktivitas keluarganya yang akrab dengan kain-kain pabrik kemudian dieksplorasi dalam visual form yang cukup menarik.  Dalam sesi wawancara saya dengan Anissa di Kuala Lumpur minggu kedua desember lalu bersama Annisa Arab, ia menggambarkan bagaimana kedekatannya dengan media yang selama ini ia geluti yakni kain pabrik.  Sejak kecil ia akrab dengan aktivitas kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai penjahit, dan ketertarikannya dengan warna, serat dari berbagai potongan kain berikut karakteristiknya.  Sehingga ketika ia studi sampai lepas dari universitas Anissa telah memilih material kain sebagai bagian penting dari studi yang difokuskan pada projek-projek penciptaan seninya dalam format karya instalasi.

Karya seni baginya adalah cara ia berimajinasi dengan sejumlah kain dari mana saja yang mampu mengkonstruksi gagasan kreatif dan itu sebagai cara penting untuk mengartikulasikan dunia gagasan mengenai ketidakmenentuan perilaku, tindakan manusia dan representasi dari kefanaan sebuah kehidupan.  Semua yang dimunculkan secara organis meskipun dari bahan baku sederhana untuk mengetengahkan rasa kritis. Mengolah berbagai persoalan yang tumbuh dan bergerak dalam kehidupan sosial yang harmoni serta dinamis.  Dalam proses kreatifnya Anissa menggunakan bahan dasar kain sebagai cara mengungkapkan perasaan, kegelisahan, espektasi, dan sebuah nilai kritis terhadap kehidupan.  Baginya kain adalah medium utama dalam instalasinya yang bisa dianggap sebagai karya seni yang cukup kompleks memiliki unsur-unsur kelembutan dengan banyak bagian yang dibangun melalui (kain bayi), kain perca, batik desain, tombol, kanvas, jarring, dan lainnya.  Ini cara khas Anissa untuk menyikapi problem sosial dan berbagai hal yang mengkonstruksinya sebagai sesuatu yang hybrid.

 

HIRZAQ HARRIS

Mohamad Hirzaq Bin Abdul Harris (Hirzaq Harris) menempuh B.A.(Hons) in Fine Art, Faculty of Art & Design, UiTM Shah Alam. Pendikan seni yang lain ia peroleh saat meraih Diploma in Fine Art, Faculty of Art & Design, UiTM Melaka SekMenKeb Tunku Besar Burhanuddin, Bandar Diraja Seri Menanti, Negeri Sembilan Malaysia.  Hirzaq Harris ingin dengan tegas menyatakan berbagai sikap mengenai paraktik korupsi yang berdamapak pada kesengsaraan masyarakat dan penghancuran pada nilai-nilai moral.  Sebuah proses edukasi yang mengarah pada kehancuran generasi dalam sebuah negeri.  Perayaan ‘rasuah’ atau perilaku korup setidaknya mampu dihentikan dengan kesadaran humanistik dan kesadaran religiusitas.

Harris mengeksplorasi tema-tema sosial yang ia kritisi seperti pada karya ‘Khilaf yang tidak disadari’, 158cm x 53cm x 78cm, Mixed media on canvas, 2012.  Khilaf atau lebih mudah difahami dengan istilah silap/salah yang membawa arti dan makna ‘kesilapan’ atau ‘kesalahan’ telah dipilihnya menjadi poin penting.  Presentasi visual babi baginya cenderung menggambarkan sesuatu yang kotor, jijik dan tidak disenangi khususnya masyarakat Melayu (Islam). Bukan niatnya untuk memberantas rasuah atau suap secara terbuka akan tetapi sekadar menyampaikan perenungan dan kesadaran mengenai hal ini.  Harris menyampaikan bahwa melalui metafora ‘babi atau anjing’ seolah memberikan pernyataan sikap jangankan memakannya, menyentuhnya saja sudah najis atau dilarang.

 

MULYO GUNARSO

Alumni FSR Seni Murni Tahun ISI Yogyakarta pada 2006 silam adalah seorang Finalis Jakarta Art Award, Warna-warna Jakarta pada 2008 dan Finalis UOB Painting of The Year, Jakarta 2011.  Mulyo Gunarso sangat interest dengan problem lingkungan hidup dan dampak perilaku manusia terhadap kelestarian hayati dan keterancaman ekosistem. Ia menggambarkan sebuah ironi antara idealisasi umum mengenai keindahan alam, keharmonisan lingkungan hidup dan bagaimana upaya dunia dalam berbagai macam program kelestarian alam dengan berbagai perilaku brutal manusia yang melakukan pembalakan liar serta pembantaian binatang yang seharusnya dilindungi sebagai cagar.   Hutan dieksploitasi tanpa upaya konservasi.

Pada karya ‘Yang Terbakar’, 130x150cm, Acrylic on canvas, 2012 ini ia bertutur mengenai sebuah ruang kehidupan yang musnah terbakar digambarkan melalui bentuk sarang burung yang melayang diantara pohon-pohon kering meranggas dengan gambaran iklim yang kering dan pasi.  Sarang burung yang terbakar memanifestasikan sebuah hunian yang diganggu dengan pemberangusan ugal-ugalan.  Pepohonan kering meranggas dan awam serba abu-abu menggambarkan situasi alam yang sudah tidak ideal dengan polusi akut.  Gugutan kritis serupa ia ketengahkan juga pada karya ‘green limit’, 130x150cm, Acrylic on canvas, 2012’ dengan mempresentasikan sebauh fragmentasi hutan gundul dipenuhi akar tunggang bekas tebangan-tebangan pohon dan sedikit ruang hijau dikejauhan yang amat sangat terbatas.  Di tepi hamparan tanah merah berserak batu dan landscape kayu-kayu pohon sisa penebangan Cara Mulyo Gunarso menyampaikan kritik terhadap pembukaan lahan pemukiman dengan penebangan hutan, wilayah resapan air dan area hijau tanpa mempertimbangkan tata kelola lingkungan.

 

RUZZEQI HARRIS

Lahir di Penang, 25 August 1984. Pendidikan Sarjana Seni Rupa, Jurusan Seni Lukis, UiTM Seri Iskandar Shah Alam, Malaysia. Ruzzeki pernah menjadi lecture of Art & Design program on the Art Fundamental subject including Basic Drawing and Element and Principle of Design di UiTM dan saat ini dia konsentrasi berkarya. Bagi Harris menjadi seorang seniman sekaligus pendidik pada saat yang sama telah mengajarkannya untuk bersabar dan toleran.  Pada tahun 2009 MEA Award 50 finalist, Kuala Lumpur  dan pada tahun 2007 3rd prize, ‘Salon Meets Art’ competition, by Swarzkopf, Elle six gallery Kuala Lumpur.

Harris sangat tertarik dengan proses penciptaan karya-karya seni rupa kontemporer melalui medium seni lukis dan mengeskplorasi media-media baru tanpa melupakan material konvesional. Ketertarikannya dengan subjek-subjek maskulin misalnya The Freak show’, 213 x 157cm Acrylic & oil on canvas, 2011, ada pigur laki-laki berotot layaknya altlet binaraga berlipstik orange dan mengenakan celana dalam warna orange dengan dot-dot orange muda berpose di depan kelopak mawar hitam dengan latar belakang motif stilasi bunga berlatar warna abu-abu. Poin yang cukup menggelitik adalah kehadiran pistol dengan laras dipanjangkan yang pada ujungnya dibengkokkan ke bawah hingga melewati tepat di area kemaluan.

Karya ini memberikan impresi ambiguitas laki-laki masa kini, kritik terhadap masyarakat kota ‘laki-laki metroseksual’ yang gemar berdandan, membentuk tubuh atletisnya, berotot, kekar, dan gemar show menebarkan aroma bulgari serta menebar senyum manis yang memesonakan.  Pesona memikat dan lembut. Sign pistol berlaras panjang dengan ujungnya bengkok ke bawah seolah mengisyaratkan pernyataan ‘oke atau top’ yang biasanya dipresentasikan melalui bahasa tubuh tangan menggenggam dengan mengangkat ‘jempola’ ibu jari ke atas namun seketika dibalik posisinya menjadi jempol terbalik.  Suatu bahasa tubuh yang menyatakan bahwa sesuatu yang tampak oke ternyata bisa terbukti sebaliknya.  Dan, ini cara Harris menafsir pria metroseksual.  Pria klimis, dendy, putih bersih, bening, berotot, atletis, dan tetap wangi tak jarang sesungguhnya mereka memiliki problem seks yang dibalut dengan tampilan maskulin.  Maskulinitas tak semata-mata berhadapan langsung dengan feminitas sekaligus, bisa jadi bersenyawa.

 

  1. Arus Local Genius dan Citra Eklektik

Rocka Radipa, Imam Santoso, Mohd Shahrul Hisham B. Tarmizi, Muhammad Syahbandi Bin Samat, dan Mariana Mt. Saleh menggali berbagai ragam pola-pola lokal sebagai spirit proses kreatifnya.  Selain menelesuri aspek lokal genius dari masing-masing latar budaya melalui teknik presentasi visual bercitra eklektik.  Persilangan antar dua arus tersebut menadi menarik karena sedikit yang mampu megeksplorasi wilayah kerja semacam ini.

ROCKA RADIPA

Rocka Radipa dialhirkan di Paninggaran, 22 Maret 1976 tentu saja mewarisi spirit tradisi leluhurnya sebagai orang Jawa kemudian pada proses berkeseniannya akhir-akhir ini alumi Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini banyak mencermati detail-detail kebudayaan Jawa yang tetap melekat pada sebagian kecil masyarakat Jawa.  Ia begitu gigih melakukan riset-riset penting untuk membangun konsep berkeseniannya.  Mulai dari menunggui Mas Miyanto (tukang ukir selonsong ‘warangka’ keris di Imogiri), si perias yang biasa dipanggil ‘tukang paes manten’, dan preman tua.  Dari pertemuannya dengan subjek-subjek tersebut melahirkan karya starlet yang dipicu dari cahaya bola-bola api pada proses kerja tukang ukir pembuat warangka keris dan Rain of Gold terinspirasi istilah yang populer masyarakat Jawa yaitu ‘udan emas’.

Rocka menggali subjek yang paling dekat yakni sebuah sustainable project berseri.  Berangkat dari proses pencarian renik penanda budaya dengan penyajian, gaya visual dan media yang terus bereksplorasi.  Semuanya berangkat dari problem internalnya yang lebih merupakan sebuah dialektika tentang dirinya, lingkungan dan budaya.  Seperti sebuah tren, budaya juga lekat dengan konteks cross culture, pembauran, tambal sulam, percampuran, pengurangan, juga kepunahan.   Bagi Rocka memahami output budaya berarti memahami pelakunya, memahami pelakunya berarti memahami pola pikir, visi, habit, dan kepribadiannya.  Sehingga proses kreatif baginya semacam laboratorium, sebuah proses ruang belajar, sebuah research, dialog, bermain, dengan pelaku budaya untuk merangkai dan menemukan “hakikat budaya”.    Inspirasi kreatifnya mengedepan dengan kekuatan aspek lokal dengan presentasi kemasan visual kontemporer dan eklektik.

Sesuatu yang ia temukan, diubah, diplesetkan, atau didistorsi untuk merangkainya menjadi harmoni baru.  Meskipun membatasi Pelaku budaya yang dijadikan partner untuk benih kekaryaan baik dari kalangan professional atau sekedar pelaku awam di masyarakayat yang modern ataupun tradisional dari sosok dalam membuat keris, penjual jamu, penjual tempe, penjual gudeg, penyanyi dangdut, politisi, pengusaha, psikiater, dokter, Dj, biker, dancer, bahkan mucikari.  Rocka sangat yakin bahwa merekalah yang membaui jaman dan merekalah  pelaku budaya.

Ada beberapa poin menarik yang saya amati ketika kami melakukan program residensi di Penang, yakni pertemuannya dengan Arkeoastronomi, Huma Lukis dari seorang Bomoh ‘paranormal’, dan uncle soon seorang musisi jalanan di George Town.  Rocka Radipa sempat melankolis di ruang lembut Astronomis muda Nurul Fatini Jafar.  Bersamanya Rocka menyelami subjek unik yang melibatkannya pada beberapa pembelajaran di Program Outreach-nya Fatini.  Melihat dalam aktivitas workshop dengan anak-anak seputar tata surya, planet, galaksi dengan tata surya melalui layar doom, membuat balon air udara, dan praktik membuat alat pembuat pelangi.  Berawal dari keterlibatan emosional, menyelami aktivitasnya sekaligus ‘nguping’ cerita –cerita anak-anak yang terlibat dalam worshop beerbasis teknologi ruang angkasa. Kemudian ia terpikir untuk mengelola subject matter dengan membuat karya sebuah comic fiksi tentang pencarian sekelompok anak-anak yang mencari ujung dari Pelangi. Lembaran –lembaran  etching yang saya bundle menjadi sebuah buku cerita.

Suatu sore di tengah kota tua itu tampak seorang Pelukis Jalanan yang menunjukkan gambar-gambar unik dan misteri.  Dengan penyelidikan intensif kemudian bertemulah dengan Kakek Huma yang ditemukan dengan tidak sengaja di tengah pusat kota George Town Penang.  Di sebuah tanah lapang kecil tempat menjual barang-barang bekas.  Menurut Prof. Hasnul dan Pak Nazli, di situ semacam pasar sore yang khusus menjual barang-barang bekas dan barang colongan khususnya.  Banyak dijual CD jadul, pakaian bekas, piring gelas bekas, atari bekas, mini compo, dan yang paling menarik perhatian Rocka tentu saja si Bomo yang mengoceh campur aduk dengan dialektika China dan Melayu dengan sesekali perform gaya seniman jadul berambut putih setengah gimbal sarat akting. Terang saja sangat mencolok keberadaan Kakek 86 tahun ini, dideretan penjual barang bekas ada penjual lukisan yang memiliki citra visual mistik.

Pada pertemuan khusus si Huma Lukis yang dikenal dengan sebutan Bomoh atau Paranormal dengan cerita-ceritanya yang tidak lazim. Lukisan-lukisannya banyak bercerita tentang hantu-hantu dan kuntilanak. Dalam dialog, dia banyak menceritakan tentang makna hidup. Bagaimana Tuhan berkehendak kepada makluknya. Pandangan dia tentang ajaran agama, Sampai hal-hal yang mungkin saya rasa absurd mulai dari cerita hantu pelacur, hantu jembatan, UFO sampai hantu semut.  Gaya lukisannya memang naïf namun punya meninggalkan goresan dengan karakter yang kuat.  Dan, alhasil Rocka mengolahnya sebagai inspirasi dalam berkarya dengan bermain optic art untuk menterjemahkan jamming spontannya dengan kakek Huma. Pada karyanya ia mengetengahkan beberapa essensi hidup: hitam-putih, baik-buruk, setan-malaikat, tua-muda, ruang-waktu, dan realitas-absurditas.

Penguhujung wakti riset di Pulau Penang ia menemui Uncle Soon seorang Musisi Jalanan sekaligus jamming beberapa jam di artshop China, Georg Town.  Bagi Rocka, Uncle Soon merupakan pribadi yang simple menjalani hidup dengan riang. Meski dengan kemampuan sederhana dan kadang anti tempo dalam memainkan lagu sebagai wujud kepasrahan dia untuk membranding dirinya sebagai musisi.  Sesuatu yang natural, sederhana, row, dan kadang acak. Ini memberikan ide baginya untuk membuat sebuah alat musik yang berhubungan dengan gerak.  Alat ini dimainkan dengan sensor gerak tangan.   Sebuah alat musik yang sebut Deftone.  Saya belum bisa mendeskripsikannya dengan gamblang karena karya tersebut masih dalam proses pengerjaan.  Tetapi bahwa, hampir semua karya Rocka digali dan ditemukan dari sesuatu yang muncul alamiah di sekitarnya atau yang ia jumput dari situasi yang tak disadari orang lain sebagai moment estetik untuk melahirkan karya seni inspiratif.

 

IMAM SANTOSO

Bachelor of Fine Art, Major in Painting, Institut Seni Indonesia dan pernah masuk sebagai Finalis UOB Painting of the Year 2011.  Mencermati karya-karya Imam Santoso tampak jelas ia tengah menggambarkan sejumlah perilaku masyarakat masa kini dalam berbagai presentasi hasrat mengeksplorasi potensi untuk survival, eksistensi diri maupun komunitinya dan bagaimana cara menikmati kenyamanan hidup yang sesungguhnya. Kadang ia menggali spirit nilai lokal Jawa sebagai bagian penting dalam mendekati dan mengelola subject matter seperti pada karya  Wait For Me!!, Acrylic on Canvas, 130x 110 (3 panel) 2012.

Garis depan prajurit Keraton (Istana Sultan) dalam perayaan telah menjadi ide-idenya.  Sepintas, mereka tak memiliki keistimewaan, mengenakan atribut lengkap dalam sebuah upacara perayaan tertentu yang digelar baik sebagai ritual kerajaan maupun difungsikan sebagai pelestarian budaya Keraton Jogja.  Tak hanya itu, upacara-upacara kraton juga bisa menarik mata dunia sebagai mata agenda turistik sebagai bagian dari cultural heritage.  Namun, Imam melihat perspektif lain dari para prajurit garis depan, melalui varian latar belakang dan usia mereka, yang sebagian besar dari mereka sudah tua, ini telah menjadi obyek yang menarik untuk diungkapkan.  Imam dipertanyakan dari regenerasi dan titik bunga untuk remaja untuk melestarikan budaya yang telah menjadi salah satu ikon di Jogja.

 

MOHD SHAHRUL HISHAM B. TARMIZI

Mohd Shahrul Hisham B. Tarmizi sedang menempuh Master of Fine Art Technology di Universiti Teknologi MARA Malaysia, Shah Alam, Selangor dan sebelumnya ia memperoleh derajat Bachelor of Fine Art (Hons) Major in Painting and Minor in Printmaking tahun 2008. Diploma of Art and Design (Fine Art) 2006 di Universiti Teknologi MARA Malaysia, Machang, Kelantan.  Dalam keseharian Shahrul adalah figur seniman muda yang ekspresif dan mau mengeksplorasi potensinya melalui berbagi medium ungkap seni yang ia geluti selama ini.  Ia juga cukup fokus pada grafis dan projek animasinya.  Setahun lalu saya mengunjungi workshopnya di nafas, ia sedang asyik merepitisi konsep karya yang mengambil jarak terdekat dengan budaya Jawa, khususnya Yogya.  Ia seolah sedang mementaskan drama dalam ruang pertunjukan yang sangat klasik di atas altar Kraton Yogayakarta.

Konstruksi landscape merapi dan bukit-bukit yang mengelilingi Yogyakarta menjadi bagian penting presentasi gagasannya.  Digambarkan dengan impresif situasi yang ngelangut dan tua. Kadang di seri repetisinya ia tambahkan garis merah menyerupai bidang empat persegi panjang, segitiga maupun lingkaran.  Penuturan visualnya mengenai bentuk persegi panjang ialah sebuah sistem konvensi altar dibuat denagn format empat arah mata angin (utara, barat, selatan dan timur), piramid dalam konsep kosmologi Jawa mendeskripsikan hubungan vertikal dengan sang Khaliq.  Karya ini kemudian direpetisi secara teratur layaknya ia sedang membuat konsep gambar animasi, kemudian diberikan beberapa ikon tertentu pada bagian-bagian tertentu pula sebagai upaya melakukan metafora kultural.  Ia bisa saja dengan sangat permukaan menghayati atmosfer heritage Yogyakarta atau malahan ia sedang mengkritisi tereduksinya spirit Jawa mempertahankan kelestarian budayanya dalam pentas kebudayaan dunia.

 

Muhammad Syahbandi Bin Samat

Lahir di Kuching Sarawak , 20 April 1990. Lulusan dari Sekolah Menengah Kebangsaan Bukit Bandaraya Malaysia, Secara otodidak Bandi berkarya dan tertarik pada karya Drawing di atas kanvas, Ia banyak mengangkat cerita-cerita rakyat, dongeng, puisi atau kepercayaan seseorang.  Ia pun baru merambah dunia seni rupa selama setahun setengah pencapaiannya berhasil dengan memenangkan Malaysian Emerging Artist Award Winner pada tahun 2011.

Bandi memiliki kekuatan karya sangat khas yang ia tekuni. Bukan kegilaan tekniknya namun pengolahan subject matter yang tak kebanyakan orang menyambangi wilayah tersebut.  Kekuatan teknisnya mendukung konsep visualnya yang memang memerlukan ketajaman intuisi dan pencapain teknik artistik yang luar biasa.  Bandi dalam kerja kreatifnya mngandalkan media ballpoint sebagai cara menundukan gagasan kreatifnta ke dalam kanvas.  Secara visual objek lukisannya amat mustakhil hanya dikerjakan dengan ujung ballpoin dengan teknik arsir yang rumit dan kemampuannya mencitrakannya secara realistik. Teknik yang spesifik kemudian dieksplorasi secara cerdas oleh Bandi untuk mempresentasikan tema-tema ganjil dan cenderung mengerikan.  Cermati saja karya yang bertajuk I think i’m not made of wood huh, ballpoint pen on canvas, 136 x 106 cm, 2011, dengan datar Bandi menggambarkan figur manusia dengan muka pucat pasi, bagian kelopak mata frustasi yang sayu lebam hitam bekas kena pukul benda tumpul, bagian mulut yang dikotori bekas darah kering, dan kedua tangannya menyayat kulit bagian pipi dengan pisau cutter hingga terkelupas dengan warna daging merah segar tanpa mengucurkan darah.  Ia menggambarkan fenomena sosial yang frustasi dengan identitas diri dan sosialnya.  Tudingan yang populer dalam pandangan psikologi kecenderungan masyarakat mashockist, kebahagiaan yang dicapai dengan menyakiti atau menyiksa dirinya sendiri hanya sekedar ingin melakukan konfirmasi identitasnya.

 

MARIANA SALEH

Lahir di Pahang, Malaysia, 1976. Lulusan diploma graphic design di Art Direction School of Art and Design, Kula Lumpur. Mariana merupakan seniman sekaligus ibu dari dua anak, Fatihah Hana (11) dan Alif Imran (5). Tertarik dengan perannya sebagai ibu sekaligus seniman, memotivasi Mariana untuk menggali kembali tema-tema untuk karyanya. Residensinya di Jogja akan menjadi titik balik bagi Mariana setelah sekian tahun vacuum berkarya.  Lukisannya bergaya naïve-realis dan terinspirasi dari figur anak-anak.  Tahun 2012 adalah tahun penting bagi Mariana Mt. Saleh, karena selain pameran terbarunya terlaksana pada bulan Juli 2012 di Kuala Lumpur.  Mariana sangat tertarik dengan kekayaan motif-motif batik dan perank-pernik kerajinan Jogja, ia juga berharap sebelum menuntaskan program residensinya bisa menemukan banyak referensi tentang proses berkarya di Yogyakarta. Tujuan ini kontan direduksi dalam gagasannya melalui karya Mariana yang cenderung minim detil pada kostum figur-figur dalam karyanya.  Detail yang ia temukan justeru merangsang dirinya untuk menemukan silent deep di dalam penghayatannya mengenai kehidupan dan problematiknya.

Mariana satu-satunya seniman yang melakukan program residensi secara komplit dengan melibatkan kedua anaknya dalam riset dan berproses di Nafas Residensi Yogya. Dua anak yang menyertainya tidaklah menjadi masalah baginya untuk berkegiatan dan menjalin komunikasi dengan seniman-seniman di Yogyakarta.  Secara teknis, anak sulungnya mampu menjaga adiknya ketika Mariana harus mengunjungi seniman ataupun kegiatan seni lainnya. Kadang mereka hanya tinggal berdua di tempat tinggal yang sekaligus menjadi kantor Nafas. Mereka sangat antusias berada dalam situasi apapun bersama ibunya selama ini.  Itulah yang menginspirasi Mariana untuk menerjemahkan kembali makna kebersamaan dan keluarga dalam karya-karyanya.

 

In CURATORIAL